"Orang Indonesia Sulit Memahami Unsay Language. Orang Indonesia Terbiasa dengan Narasi dan Bahasa Verbal yang Bertele-tele"
Adegannya : Yanti tertabrak mobil.
Kemudian salah satu sahabat yanti menelpon Rio, pacarnya.
Sahabat : Halo, loe di mana? Yanti udah ditabrak. Dia sekarang di rumah sakit. Kalo bisa lo nyusul deh ke sana.
Rio: Hah... Yanti ditabrak?? Kapan kejadiannya, (sambil berputar di tepat dengan raut wajah kuatir) dia parah gak.. Oke deh gue nyusul ke sana.
Selanjutnya dia tidak langsung ke TKP. Adegannya malah take saat dia gelisah didalam mobil sambil pake suara hati yang bisa didengar penonton : "gue harus cepat ke sana. aduh semoga dia gak apa-apa"
Kebanyakan orang ketika menonton adegan seperti ini merasa biasa saja. Malah terbawa kondisi. Tapi saya ketika menyaksikan adegan mainstream seperti ini sangat terusik. Alasannya sangat simpel adegan ini menghambat pertumbuhan sensitifitas manusia terhadap bahasa tubuh.
Perbandingannya dengan Film Hollywood.
Yanti Tertabrak Mobil
Salah satu sahabat yanti menelepon Rio, pacarnya.
Rio : Hallo... (dengan raut wajah yang langsung berubah). I'll be there soon.
Selanjutnya kamera mengambil gambar roda kereta dorong di rumah sakit dan scene di rumah sakit.
Mari kita bandingkan keduannya:
- Dalam adegan drama versi indonesia, sineas dan penulis skenario berusaha menjelaskan dengan bahasa verbal yang bertele tele tentang kondisi Yanti dan kekhawatiran Rio. Hal ini menunjukan bahwa orang Indonesia dianggap tidak mampu menerjemahkan suatu peristiwa yang tidak perlu dijelaskan dengan bahasa verbal.
- Dalam adegan versi Hollywood, hanya dengan berkata hallo, raut wajah yang berubah dan perkataan i'll be there, penonton dituntun kepada sebuah kesadaran akan bahasa yang tidak terucap bahwa kondisi yanti sedang sekarat. Ditambah dengan scene Rumah sakit semakin memperjelas kondisi yanti dan penonton akan langsung sadar bahwa Yanti sedang dalam bahaya.
- Sineas dan penulis skenario Indonesia memposisikan penonton Indonesia sebagai orang bodoh yang tidak punya kemampuan menerjemahkan makna yang tidak diceritrakan dalam adegan verbal. Mereka seumpama dayang dalam pertunjukan wayang yang mana merasa bahwa segala sesuatu harus diceritrakan secara verbal. Dampak jangka panjangnya adalah generasi muda Indonesia tidak punya rasa empati dan lambat membaca situasi yang terjadi di sekitarnya.
- Orang barat sedikit bicaranya banyak adegan yang butuh permenungannya. Sehingga ketika penonton menyaksikan, mereka dituntut untuk berpikir dan merasa apa yang sedang terjadi.
- Sementara itu, drama indonesia tidak butuh dinonton. Hanya dengan mendengar suara tanpa gambar kita sudah tahu apa yang sedang terjadi. (Budaya ceritra)
Kesimpulannya: Semakin banyak adegan serupa ditampilkan maka orang Indonesia tidak punya kemampuan merasa, menyimak dan memahami situasi di sekitar mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar